Kita semua pastinya sepakat, bahwa air bersih jadi kebutuhan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup masyarakat. Namun, banyak daerah di Indonesia, termasuk Jakarta, masih mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih dengan harga yang terjangkau.
Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), penyediaan air minum layak mencapai 91,08%. Sementara itu, menurut data studi kualitas air minum rumah tangga tahun 2020, akses air minum aman hanya 11,8%.
Selain itu, berdasarkan data dari LPPM ITB, menurut Joint Monitoring Programme (JMP) yang digawangi oleh WHO dan UNICEF, sumber air minum layak adalah sumber yang memiliki potensi untuk menghasilkan air dengan kualitas yang memenuhi persyaratan kesehatan berdasarkan desain dan konstruksinya.
Contoh air minum yang layak adalah sistem penyediaan air minum (SPAM) jaringan perpipaan, pemanenan air hujan, dan sumur bor. Sementara itu, air minum aman menurut JMP harus memenuhi 3 kriteria. Pertama, dapat diakses di dalam rumah. Kedua, tersedia setiap kali dibutuhkan, dan ketiga bebas dari kontaminasi.
Nah, untuk menjawab permasalahan tersebut, maka sejak tahun 2023, proyek pemasangan pipa baru telah dimulai di Jakarta, dengan tujuan untuk meningkatkan akses air bersih kepada seluruh masyarakat Jakarta.
Peningkatan akses air bersih melalui pemasangan pipa baru yang dilakukan oleh pemerintah akan dilakukan secara bertahap sampai dengan tahun 2030. Dalam pelaksanaannya, tentu akan memunculkan ketidaknyamanan bagi masyarakat, khususnya para pengguna jalan, serta masyarakat yang berada di area sekitar proyek galian air ini.
Untuk mengurangi gangguan selama proyek berlangsung, ada beberapa kegiatan yang dilakukan berupa:
- Penyesuaian metode pemasangan pipa,
- Penjadwalan kerja yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi area proyek,
- Pengaturan lalu lintas,
- Menjaga kebersihan area kerja serta
- Penyampaian informasi dan edukasi yang jelas kepada masyarakat tentang perkembangan proyek.
Diharapkan dengan adanya kegiatan tersebut, dampak yang terjadi pada aktivitas sehari-hari masyarakat dapat berkurang. Selain itu, masyarakat juga dapat memahami tujuan dan manfaat jangka panjang dari hasil kerja proyek air bersih ini.
Dalam proses pembangunannya, proyek SPAM ini memang banyak dikeluhkan oleh masyarakat, dan itu wajar. Salah satunya seperti yang bisa dilihat pada proyek pembangunan SPAM regional Jatiluhur di Jalan Kalimalang, Bekasi, arah Jakarta.
Mereka menyadari pentingnya proyek penyediaan air bersih untuk masyarakat Jakarta ini, hanya saya, warga menyoroti tanggung jawab pelaksana proyek dalam mengembalikan kembali jalan yang bagus seperti semula.
“Pembangunan boleh saja, bukannya nggak boleh. Tapi jangan bangun terus bongkar terus bangun, terus bongkar lagi. Soalnya sering kan di Kalimalang ini ada galian. Kadang kalau ada proyek gitu jalanannya nggak dibenerin lagi. Jadi jalanan tambah rusak,” kata seorang warga di daerah sekitar proyek galian Jatiluhur.
Sementara itu, warga lainnya, yakni Abdullah, tukang ojek online, mengaku pembangunan proyek SPAM kerap membuat macet. Namun, menurutnya, kemacetan yang ditimbulkan tak terlalu parah.
“Ya kalau pagi sih sering macet, soalnya lagi ada pembangunan itu. Tapi nggak terlalu panjang, pembangunannya cuma sampai situ aja, kalau macetnya paling dari sini (Lagoon),” kata Abdullah.
Perlu diketahui, penyediaan air minum yang tidak melulu mengandalkan air tanah memang tengah jadi perhatian pemerintah. Ini penting untuk menjaga kualitas air yang dikonsumsi masyarakat termasuk juga kondisi geologi perkotaan yang terancam bila pengambilan air tanah besar-besaran masih dilakukan.
Menilik salinan Instruksi Presiden Republik Indonesia yang diunduh dari website JDIH Kementerian Sekretariat Negara, perintah tersebut tertuang dalam Inpres Nomor 1 Tahun 2024 tentang Percepatan Penyediaan Air Minum dan Layanan Pengelolaan Air Limbah Domestik.
Disebutkan pula bahwa instruksi ini dalam rangka pemenuhan hak dasar masyarakat untuk:
- Meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
- Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan penyakit bawaan air,
- Menurunkan prevalensi dan mencegah terjadinya stunting,
- Serta mengurangi laju pengambilan air tanah oleh masyarakat.
Jadi, akses air bersih yang belum merata di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi geografis hingga keterbatasan infrastruktur dan kesadaran masyarakat. Dengan pembangunan sistem air bersih yang tepat dan berkelanjutan, masalah ini dapat diatasi secara bertahap demi meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Dengan begitu, dampak kekurangan air bersih bisa teratasi secara bertahap.